Yosh jadi disini ane mau berbagi kisah tentang PR" yang baru-baru ini sudah diubah cara pengerjaannya. Sebenarnya udah lama diganti, waktu kelas X SMA dulu, tapi baru sempat nulis sekarang.
Sebelum mulai, gak enak rasanya jika kita belum mengenal sosok dibalik Quipper School ini, ya beliau adalah Masayuki Watanabe. Beliau mendirikan Quipper School tahun 2010 di London yang kemudian menjadi pusat perusahaan pendidikan tersebut. Untuk mengenal lebih jelas tentang beliau, agan" sekalian bisa mengunjungi link ini.
![]() |
| https://www.crunchbase.com/person/masayuki-watanabe |
SKIP!
Jadi beberapa hari yang lalu atau mungkin beberapa minggu yang lalu, wakil kepala sekolah memberitahukan sekilas tentang media belajar online yang dinamakan Quipper School ini. Pertama kali mendengarnya ane gak terlalu peduli karena yakin kalau ujung-ujungnya ini gak bakalan diterapkan di sekolah. Tapi ternyata meleset jauh, guru-guru bidang studi pelan-pelan mulai memberikan PR dalam bentuk online ini yang kemudian diberi tenggat waktu. Saat itu, guru yang menerapkan sistem PR secara online ini masih sedikit, sehingga tidak ada kewajiban bagi murid untuk mengerjakannya, hanya saja jika dikerjakan akan mendapat nilai tambah. So saat itu pula ane kadang-kadang ngerjain kadang-kadang juga nggak. Tergantung mood dan kondisi kuota.
Beda halnya dengan sekarang, saat guru-guru sudah banyak yang mengenal internet, maka sebanyak itu pula yang memberi tugas melalui Quipper School. Tugas-tugas yang tadinya tidak terlalu diwajibkan, kini mulai dimasukkan ke daftar nilai. Sehingga secara tidak langsung, nilai tugas kami di Quipper juga akan menjadi nilai utama dan akan memengaruhi nilai raport.
Terjadilah perdebatan sengit antara guru dan murid, munculah pihak yang pro dan kontra, tapi tetap pihak yang kontra lebih banyak daripada pihak yang pro. Ketika tenggat waktu telah habis misalnya, dan mungkin ada beberapa siswa/i yang tidak mendapatkan informasi tentang tugas tersebut, maka secara otomatis nilai tidak akan masuk ke daftar nilai atau singkatnya ia mendapatkan 0 (NOL BESAR). Padahal bisa saja siswa/i tersebut tidak memiliki kuota yang cukup untuk mengakses Quipper School, atau mungkin ia ketinggalan informasi. Mungkin para guru tidak mengerti bahwa kami juga memiliki keeksisan di dunia maya.
![]() |
| Jujur, kita semua pasti memiliki paling tidak satu akun saja dari beberapa social media diatas. |
Ada pula kasus lain, ketika siswa/i telah selesai mengerjakan tugas Quippernya, tapi ketika dibacakan daftar nilainya ia malah tidak mendapatkan nilai alias nilai 0. And ane emang gak terlalu ngerti dengan yang namanya full server atau kepenuhan viewers terhadap suatu website. Ya mungkin jika dianalogikan sama seperti ketika seseorang mencoba masuk ke dalam ruangan yang kecil, dan yang dinilai adalah kelengkapan atributnya, sehingga ketika ada satu orang yang mencoba masuk tapi tidak cukup di dalam ruangan tersebut, maka mungkin pemilik ruangan akan melepas atribut orang itu sehingga ruangan akan cukup dan tidak kepenuhan. Belepotan ya kata-katanya? Tapi seperti itulah gambaran yang ane tangkap dalam cerita ini. FYI, inilah bentuk situs Quipper School jika login sebagai Siswa.
![]() |
| Kok disensor tuh gan? |
Ya oke mungkin cuma itu yang mau ane bagi ke agan-agan sekalian. Bagi kalian yang patah hati karena nilainya tidak masuk ke daftar nilai, jangan putus asa! Jika kalian ingin koneksi stabil, kencang, kalian bisa ke warnet untuk mengerjakannya. Ngerjain PR di warnet itu biasa kok, jangan takut diliatin orang sekitar ("kalian" disini dimaksudkan untuk teman" senasib yang mengalami hal serupa).
Bagi agan" yang mungkin belum pernah ngerasain ngerjain tugas secara online, semoga postingan Ilmu Basi ini dapat memberi agan gambaran dan pengetahuan sehingga dapat mempermudah agan nantinya.




ConversionConversion EmoticonEmoticon